Saturday, June 22, 2024
HomeJambiMuntahkan Abu Setinggi 700 Meter, Pengamat: Erupsi Gunung Kerinci Bersifat Freatik, Tidak...

Muntahkan Abu Setinggi 700 Meter, Pengamat: Erupsi Gunung Kerinci Bersifat Freatik, Tidak Membahayakan

KAYUARO – Gunung Kerinci kembali menunjukkan aktivitas tidak normal pada Selasa (6/12/2022). Gunung tertinggi di Sumatera ini mengeluarkan abu vulkanik hingga ketinggian 700 meter. Warga diimbau waspada.

Semburan asap yang membubung tinggi dengan intensitas sedang hingga tebal itu terpantau oleh warga Kayuaro dan sekitarnya pada pukul 08.22 WIB. “Semburan abunya cukup tinggi, namun arahnya ke Sumatra Barat,” kata Arga, warga Kayuaro.

Gunung Kerinci berada di perbatasan Provinsi Jambi dan Sumatera Barat, yakni wilayah Kabupaten Kerinci dan Kabupaten Solok Selatan. Namun jalur pendakian utama berada di Kerinci.

Warga berharap semburan asap dari gunung berapi itu tidak membawa dampak buruk bagi warga sekitar. “Semoga Kerinci baik-baik saja,” sebut Arga.

Petugas Pemantau Gunung Api Kerinci, S Mamory, mengatakan bahwa kolom abu di atas Gunung Kerinci berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan condong ke arah barat daya. “Erupsi ini terekam di seismogram  dengan amplitudo maksimum 3 mm, durasi sekitar 1 menit,” ujarnya.

Dia menyebutkan, Gunung Kerinci bertatus Level II atau Waspada. Masyarakat di sekitar dan pengunjung tidak diperbolehkan mendaki ke puncaknya dalam radius 3 km dari kawah aktif. 

“Jalur penerbangan di sekitar Gunung Kerinci sebaiknya dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan,” tutupnya.

Gumpalan abu terlihat selama sekitar 25 menit. Setelahnya Gunung Kerinci tertutup awan putih.

Pendakian ke Gunung Kerinci ditutup sejak Oktober lalu setelah status gunung ini dinyatakan Waspada atau level II pasca mengeluarkan abu vulkanik.  Saat itu, asap tebal membubung setinggi 200 meter. 

Bagi warga setempat, aktivitas gunung setinggi 3.805 meter di atas permukaan laut (MDPL) seperti itu adalah hal lazim. 

Dosen teknik geologi Universitas Gajah Mada, Dr Akmaludin, menyebutkan bahwa Gunung Kerinci sudah hampir dua bulan terpantau erupsi. Namun, letusan itu bersifat freatik yang terjadi ketika magma memanaskan air tanah atau air permukaan.

Temperatur magma yang ekstrem hingga 1.000 derajat Celcius, urai dia, menyebabkan air seketika menjadi uap, menghasilkan ledakan uap, air, abu, dan batu.

“Letusan seperti itu tidak membahayakan karena material yang dilontarkan juga tidak banyak. Malah asap tebal membubung tinggi lebih bagus karna akan menyebar jauh dan hilang disapu angin,” jelasnya.

Dikatakan tidak berbahaya karena tidak terjadi hujan abu di Kayuaro dan sekitarnya. Bila terjadi hujan abu, lanjut dia, warga jangan mengusap mata. Sebab, material abu volkanik adalah mineral kuarsa yang sangat tajam dan bisa melukai mata.

Dosen asal Kerinci ini menambahkan, letusan yang berbahaya adalah letusan magmatik yang disebabkan tekanan gas di dalam perut gunung api yang menyemburkan magma. Semakin besar tumpukan gas, maka semakin besar pula letusan dan semakin banyak material yang dilontarkan.

“Tekanan gas ini biasanya akan terekam di seismograf yang dipasang di posko pemantau gunung api,” tutupnya.   

Kapolda Jambi Irjen Pol Rusdi Hartono mengimbau warga sekitar Gunung Kerinci waspada. Dia mengatakan, status gunung di Indonesia, termasuk di Jambi, memang mulai aktif.

“Tentunya kita melihat apa yang terjadi di Jawa Timur, Gunung Semeru erupsi,”  ujarnya, Selasa (6/12).

metrojambi.com

RELATED ARTICLES

TRANSLATE

- Advertisment -

Most Popular