Sunday, April 14, 2024
HomeFinansialTerkini: Klaim Yusuf Mansur Jadi Komisaris Grab, Laju Ekspor Terancam Resesi Global

Terkini: Klaim Yusuf Mansur Jadi Komisaris Grab, Laju Ekspor Terancam Resesi Global

Sepanjang akhir pekan, perhatian pembaca masih terpusat pada prediksi resesi 2023. Dunia pada tahun depan dihadapkan dengan tantangan krisis ekonomi yang diperkirakan bakal membuat laku ekspor-impor di Indonesia terganggu. 

Berita lainnya masih soal klaim Yusuf Mansur yang menjadi Komisaris Grab. Yusuf mengatakan pernyataannya yang viral di media sosial itu tak mengada-ada. 

Berikut empat berita terkini di kanal ekonomi dan bisnis, Sabtu, 8 Oktober 2022. 

1. Ancaman Resesi Global, Analis Prediksi Ekspor RI Bakal Melemah

Sejumlah analis melihat dunia tengah berada di ambang resesi. Beberapa negara maju mulai menunjukkan gejalanya, termasuk Eropa, Inggris, dan Amerika Serikat.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan kondisi ini telah direspons oleh pelaku pasar. “Kenaikan inflasi yang sangat tinggi di negara maju yang diikuti respons kebijakan moneter luar biasa dan likuiditas ketat memacu apa yang disebut capital outflow dan volatilitas di sektor keuangan,” ujar Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Jumat, 7 September 2022.

Ibrahim menyebut Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan proyeksi ekonomi global dari 3,6 persen menjadi 3,2 persen untuk 2022 dan 3,6 persen menjadi 2,9 persen untuk tahun 2023. Menurutnya, kondisi ini akan menekan pertumbuhan ekonomi negara berkembang—termasuk Indonesia.

Indonesia, kata dia, bisa berbangga lantaran ekonominya tumbuh 5,44 pada kuartal kedua 2022. Namun, tantangan luar biasa menanti di depan mata. Jika dunia mengalami resesi—termasuk AS dan Eropa—kondisi ini akan berdampak terhadap capaian ekspor Indonesia.

Laju ekspor Indonesia diperkirakan melorot. “Karena permintaan turun. Jika demikian, otomatis harga komoditas akan melemah,” tutur Ibrahim.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada September 2022 turun US1,4 miliar menjadi US$130,8 miliar dibandingkan dengan posisi pada bulan sebelumnya. Meskipun cadangan devisa turun, posisinya masih setara dengan pembiayaan 5,9 bulan impor atau 5,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Selain itu, berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. “Terkurasnya cadangan devisa lantaran terdapat kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah sejalan dengan masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global,” ucap Ibrahim.

Dia menyebut BI memandang cadangan devisa Indonesia tetap memadai. Sebab, ada dukungan stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga. “Ini seiring dengan berbagai respons kebijakan dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung proses pemulihan ekonomi nasional,” ujarnya.

Sumber: Tempo.co

RELATED ARTICLES

TRANSLATE

- Advertisment -

Most Popular