Wednesday, June 12, 2024
HomeBeritaSuku Bunian di Jambi, Apa Legenda Atau Mitos? Tak Ada Jejak Sejarah

Suku Bunian di Jambi, Apa Legenda Atau Mitos? Tak Ada Jejak Sejarah


Suku Bunian di Jambi, diyakini masyarakat ada. bahkan ada cerita-cerita yang beredar di masyarakat, bahwa ada yang pernah bertemu. Kata mereka, keberadaan mereka sangat cepat hilang. Bisa dikatakan hanya sekelebat.

Namun pendapat para peneliti, suku ini hanya legenda dan mitos. Apa lagi tidak ada bukti sejarah atau bukti fotor suku ini pernah ada.

Demikian juga dengan bukti kerangka atau perkuburan mereka. Sehingga peneliti menyimpulkan jika suku bunian (disembunyikan) ini seperti mitos hantu-hantu atau kisah mak lampir atau kisah wewe gombel.

Ada ceritanya, namun tidak ada buktinya. Sehingga dikatakan, bahwa suku bunian ini seperti mahluk seperitual atau cerita mistis masyarakat. 

Sudah beberapa kali peneliti melakukan penelitian dan mencoba mencari, namun tidak ada yang bertemu. Bahkan Tim dari National Geografi, juga sudah pernah menurunkan tim untuk melacak.

Jika kita baca di Wikipedia, disebutkan bahwa suku Bunian atau orang bunian atau sekadar bunian , adalah mitos sejenis makhluk halus yang dipercaya oleh masyarakat Minangkabau dan Melayu di Sumatra, Indonesia serta di Malaysia Barat. Berdasar mitos tersebut, orang bunian berbentuk menyerupai manusia dan tinggal di tempat-tempat sepi, di rumah-rumah kosong yang telah ditinggalkan penghuninya dalam waktu lama.

Paslanya, sampai saat ini belum ada jejak atau peninggalan Suku Bunian ini. baik di  Sumatera Barat, Jambu atau Kerinci dan Gunung Dempo yang dikatakan asal suku bunian.

Dalam Wikipedia disebutkan bahwa istilah ini dikenal di wilayah Sumatera Barat, Jambi dan ada juga di Malaysia. Orang bunian atau Suku Bunia, juga kadang-kadang dikaitkan dengan istilah dewa di Minangkabau, pengertian “dewa” dalam hal ini sedikit berbeda dengan pengertian dewa dalam ajaran Hindu maupun Buddha. 

“Kucing” dalam istilah Minangkabau berarti sebangsa makhluk halus sebangsa peri yang tinggal di wilayah hutan, di rimba, di pinggir bukit, atau di jauh pekuburan. Biasanya bila hari menjelang matahari terbenam di pinggir bukit akan tercium sebuah aroma yang biasa dikenal dengan nama “masakan dewa” atau “samba dewa”. 

Aroma tersebut mirip bau kentang goreng. Hal ini dapat berbeda-beda namun mirip, berdasarkan kepercayaan lokal masyarakat Minangkabau di daerah berbeda. “Dewa” dalam kepercayaan Minangkabau lebih diasosiasikan sebagai bergender perempuan, yang cantik rupawan, bukan laki-laki seperti persepsi yang umum di kepercayaan lain.

Sumber: Radarseluma

RELATED ARTICLES

TRANSLATE

- Advertisment -

Most Popular