Friday, May 17, 2024
HomeAsiaBagaimana kinerja Emiten Resto yang tertimpa kabar penutupan toko?

Bagaimana kinerja Emiten Resto yang tertimpa kabar penutupan toko?


Jakarta, CNBC Indonesia – Kabar penutupan gerai masih menghinggapi industri makanan & minuman (F&B), terutama restoran, di Tanah Air. Kinerja terakhir emiten mengindikasikan masih ada jejak tekanan terhadap industri tersebut.

Hantaman pandemi Covid-19 menggoyahkan fundamental perusahaan sejak 2020 lalu.

Pemulihan sebenarnya mulai tampak. Namun, pencabutan pembatasan mobilitas berupa PPKM ternyata tetap menyisakan masalah buat sejumlah restoran dan beberapa memilih tutup, seperti beberapa gerai Warung Upnormal hingga Fish & Co.

Sejumlah emiten pemilik restoran yang tercatat di bursa memang belum sepenuhnya pulih.

Pengelola Pizza Hut (kode saham: PZZA), misalnya, membukukan rugi bersih Rp35,50 miliar selama 9 bulan 2022. Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya, PZZA masih membukukan laba bersih Rp13,31 miliar.

Demikian pula dengan pemilik jaringan resto makanan cepat saji KFC Indonesia (FAST) yang kembali menanggung rugi bersih Rp17,16 miliar hingga 30 September 2022. Kendati, lebih kecil dari rugi bersih per kuartal III 2021 sebesar Rp198,05 miliar.

Walaupun, memang, sejumlah emiten mulai turnaround, seperti pengelola resto Gokana (ENAK) yang membalik rugi bersih Rp39,56 miliar per triwulan III 2021 menjadi laba bersih Rp46,59 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Nama lainnya, emiten pengelola Starbucks hingga Subway dari Grup MAP (MAPB) juga berhasil membukukan laba bersih Rp106,82 miliar hingga 30 September 2022, berbalik dari rugi bersih Rp74,04 miliar pada kuartal III 2021.

Kabar baiknya, 5 emiten di atas masih berekspansi dengan penambahan gerai sepanjang 2022. Gerai MAPB, misalnya, bertambah dari 593 pada 30 Juni 2021 menjadi 632 pada 30 Juni 2022.

Kemudian, ENAK bertambah menjadi 291 gerai pada 30 September 2022 dari sebelumnya 275 gerai pada 31 Desember 2021.

Sementara, kinerja saham restoran juga secara umum kurang ciamik. Selain kinerja yang loyo, volume perdagangan saham-saham tersebut juga dikenal sepi. Saham MAPB menjadi yang paling moncer selama awal 2023, dengan kenaikan 31,93% year to date (YtD) per penutupan Senin (27/2/2023).

Sisanya, saham ENAK dan PTSP malah anjlok masing-masing 35,89% dan 40,29% YtD.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran pun mengungkapkan penyebab jaringan-jaringan restoran ini bertumbangan.

Maulana bilang, saat ini bisnis restoran menghadapi situasi rumit. Sebab, permasalahan dari peningkatan traffic pengunjung tidak serta merta juga meningkatkan pendapatan yang diterima.

Selain itu, biaya operasional yang harus ditanggung semakin naik seiring dengan meningkatnya traffic. Namun, jika tak diikuti kenaikan pendapatan, usaha restoran kemudian bisa jadi gulung tikar hingga menutup gerainya.

“Bahwa peningkatan traffic yang ada terjadi saat ini, juga diiringi dengan peningkatan biaya operasional. Masalah energinya (listrik dan air), (biaya) dari perizinan, belum lagi terkait masalah upah minimum juga kan meningkat semua itu. Nah itu dari sisi pendapatan belum bisa dikatakan (meningkat),” kata Maulana kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (27/2/2023).

Permasalahan lainnya, lanjut dia, maraknya aktivitas sosial dan ekonomi setelah pembatasan ketat di era pandemi Covid-19, ternyata belum diikuti pemulihan usaha. Di sisi lain, jelas Maulana, pengusaha harus melunasi kewajibannya ke pihak bank meski masih dalam kondisi babak belur.

Prospek Resto

Kendati belum sepenuhnya pulih, ada sejumlah indikator dan sentimen positif yang bisa dikapitalisasi oleh perusahaan yang bergerak di bidang F&B, termasuk restoran.
Menilik data BPS, laju pertumbuhan PDB sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencapai 11,97% secara tahunan (yoy) pada 2022. Angka ini tumbuh dari pertumbuhan pada 2021 yang sebesar 3,89%.

Informasi saja, pada tahun pandemi 2020, pertumbuhan PDB sektor ini minus 10,26% seiring pembatasan pergerakan orang kala itu.

Data lainnya, dari Survei Konsumen Bank Indonesia pada Januari 2023 menyebut, keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi meningkat dibandingkan dengan capaian pada bulan sebelumnya dan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2023 sebesar 123,0, lebih tinggi dibandingkan dengan 119,9 pada Desember 2022.

Selain itu, kampanye politik Pemilu 2024 bisa mendorong tingkat konsumsi masyarakat pada tahun ini, sedikit banyak akan ikut berdampak ke sektor consumer dan F&B RI.
Sedangkan, dalam jangka panjang, masih ada ruang untuk bertumbuh lantaran, mengutip penelitian Frost & Sullivan, penetrasi pembukaan outlet di RI tergolong rendah daripada negara lainnya sedangkan urbanisasi di Indonesia terus meningkat.

Sumber: cnbcindonesia

RELATED ARTICLES

TRANSLATE

- Advertisment -

Most Popular