Saturday, July 13, 2024
HomeASEANIndonesia Akan Ajukan "Limited FTA" ke AS Karena Kebijakan IRA

Indonesia Akan Ajukan “Limited FTA” ke AS Karena Kebijakan IRA

Salah satu yang kita bicarakan itu karena kalau tidak, mereka rugi juga, karena dengan green energy yang kita punya untuk memproses prekursor, katoda, ya mereka nggak dapat dari Indonesia karena kita nggak punya FTA dengan mereka. Sekarang kita usuli

Jakarta (ANTARA) – Pemerintah Indonesia akan mengajukan proposal perjanjian perdagangan bebas terbatas atau limited free trade agreement (FTA) dengan Pemerintah Amerika Serikat (AS) atas diskriminasi pajak untuk produk mineral kritis RI yang tertuang dalam Inflation Reduction Act (IRA).

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan meyakini Indonesia punya daya tawar tinggi untuk mengajukan perjanjian perdagangan bebas terbatas karena memiliki keunggulan sumber daya mineral yang dibutuhkan dalam pengembangan kendaraan listrik.

“Salah satu yang kita bicarakan itu karena kalau tidak, mereka rugi juga, karena dengan green energy yang kita punya untuk memproses prekursor, katoda, ya mereka nggak dapat dari Indonesia karena kita nggak punya FTA dengan mereka. Sekarang kita usulin limited free trade agreement dengan mereka,” katanya dalam konferensi pers update kerja sama Indonesia-Tiongkok di Jakarta, Senin.

Luhut rencananya akan terbang ke AS pada Selasa (11/4) untuk melakukan negosiasi terkait kebijakan tersebut.

Tidak hanya melakukan negosiasi dengan pemerintah AS, Luhut beserta rombongan juga berencana untuk bertemu dengan dua pabrikan otomotif AS yaitu Tesla dan Ford.

Luhut menambahkan pengajuan limited FTA dilakukan mengikuti langkah Jepang untuk mengamankan investasi mineral kritis dengan AS di bawah kerangka IRA.

Namun, Luhut memastikan pengajuan limited FTA nantinya juga tergantung animo AS terhadap produk mineral kritis Indonesia.

“Kemarin juga ditanya ke saya, ditanya, ditelepon ‘Kalian punya nggak critical mineral agreement dengan Amerika?’ saya bilang ‘Seperti Jepang, kita tergantung Amerikanya, kalau Amerika mau, kita suka, kalau dia nggak mau ya mau diapain. Tapi yang rugi kan mereka juga, kita masih ada market lain. Jadi saya kira akan ada mungkin limited free trade agreement dengan kita,” kata Luhut.

Deputi Bidang Koordinasi Pertambangan dan Investasi Kemenko Marves Septian Hario Seto mengungkapkan limited FTA yang diajukan nantinya dikhususkan untuk perdagangan mineral kritis.

“Esensinya sama (dengan seperti punya Jepang), untuk critical mineral harus semacam perdagangan bebas, ada ketentuan critical mineral Indonesia seperti apa. Untuk nikel, aluminium, kobalt, copper,” katanya.

Ia menambahkan alasan utama Indonesia tidak masuk kriteria IRA yakni karena Indonesia tidak memiliki perjanjian perdagangan dengan AS.

“Hanya ada 17 negara yang punya FTA dengan AS Banyak sekali negara yang tidak punya. Jadi yang nggak punya (FTA), nggak eligible untuk IRA,” tutur Seto.

Sebelumnya, Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid mendesak Amerika Serikat (AS) memberikan perlakuan yang adil dalam pemberian subsidi hijau bagi mineral untuk kendaraan listrik.

Keprihatinan itu disampaikan Arsjad atas ‘pengucilan’ terhadap mineral kritis Indonesia dari paket subsidi Amerika Serikat untuk teknologi hijau. Pemerintah AS akan menerbitkan pedoman kredit pajak bagi produsen baterai dan EV di bawah Undang-Undang Pengurangan Inflasi yang mencakup 370 miliar dolar AS dalam subsidi untuk teknologi energi bersih.

Namun, baterai yang mengandung komponen sumber Indonesia dikhawatirkan tetap tidak memenuhi syarat untuk kredit pajak Inflation Reduction Rate (IRA) secara penuh, karena Indonesia belum memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan AS dan dominasi perusahaan China dalam industri nikel.

IRA merupakan paket perlindungan iklim dan paket sosial senilai 430 miliar dolar AS yang diloloskan Kongres Amerika Serikat pada Agustus 2022. Paket tersebut ditujukan untuk membantu mengatasi inflasi dan mengurangi harga energi serta mengatasi perubahan iklim.

Paket tersebut menawarkan diskon pajak besar-besaran pada perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat yang mau berinvestasi di bidang energi bersih. Selain itu juga memberikan subsidi pada kendaraan listrik buatan dalam negeri, baterai, dan proyek-proyek energi terbarukan lainnya.

Sumber: Antara News

RELATED ARTICLES

TRANSLATE

- Advertisment -

Most Popular