Saturday, May 18, 2024
HomeBeritaEfek Domino Boeing Buka Kantor di Indonesia Buat Industri Penerbangan

Efek Domino Boeing Buka Kantor di Indonesia Buat Industri Penerbangan


Langkah Boeing buka kantor di Indonesia disebut akan berdampak positif terhadap perkembangan industri penerbangan nasional. Produsen pesawat asal Amerika Serikat (AS) itu bakal menjadikan Tanah Air sebagai hub kegiatan bisnisnya. 

Menurut Pemerhati penerbangan dari Jaringan Penerbangan Indonesia (Japri) Gerry Soejatman kantor Boeing Indonesia nantinya akan menjadi hub kegiatan seluruh lini bisnis Boeing untuk Indonesia. 

Hal ini tidak hanya untuk segmen pesawat komersil dan pesawat militer, tetapi juga helikopter, roket dan satelit, investasi atau diversifikasi rantai pasok dan sektor lainnya. Dia menuturkan, kini Boeing tidak hanya melihat Indonesia sebagai pasar yang besar. 

Pasalnya, selain diproyeksikan menjadi pasar pasar penerbangan komersial nomor 4 terbesar di dunia pada 2035, Indonesia juga tengah mencatatkan pertumbuhan kebutuhan alat utama sistem pertahanan (alutsista). “Boeing tidak bisa lagi hanya melihat Indonesia sebagai tempat jualan. Kantor ini tidak hanya jualan pesawat saja, tetapi memberikan dukungan pelatihan, pengembangan supply chain, dan kerja sama industri,” ujar Gerry dalam unggahannya di media sosial X (dahulu Twitter), Kamis (5/10/2023).

Gerry melanjutkan, kehadiran Boeing ke Indonesia juga dinilai akan berdampak positif terhadap kemampuan dari PT Dirgantara Indonesia atau PTDI. Gerry menuturkan, saat ini PTDI tengah gencar bermain di pasar komponen pesawat dan sangat ingin terlibat dalam kegiatan pasar secara global untuk membangun ekosistem industri pesawat terbang nasional.

Di sisi lain, salah satu misi dari Boeing adalah membantu meningkatkan kemampuan dan kualifikasi PTDI dalam ekosistem rantai pasok pesawat di dunia melalui kemitraan, pelatihan, pengembangan, dan lain-lain.

Tentu juga, jika pesanan-pesanan kebutuhan militer kita terealisasi, maka local industry support akan menjadi bagian penting dari deal tersebut. Namun, Indonesia sudah tidak bisa hanya tergantung kepada PTDI saja, dimana partnership PTDI sudah didominasi oleh Airbus,” jelas Gerry. 

Selain itu, Gerry juga menyoroti penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Boeing dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.  

Dia menuturkan, MoU untuk mengembangkan sektor penerbangan nasional itu dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan sektor penerbangan Indonesia ke depannya. 

Hal tersebut seiring dengan prediksi kebutuhan pesawat komersil di Indonesia yang mencapai minimal 1.200 unit dalam 20-25 tahun mendatang. “Intinya untuk MoU ini, yuk kolaborasi, jangan sampai pas maju pesat regulator Indonesia keteteran seperti tahun 2001-2007 lalu,” kata Gerry.

Sumber: Bisnis.com

RELATED ARTICLES

TRANSLATE

- Advertisment -

Most Popular