Saturday, March 2, 2024
HomeBeritaRI Butuh 1.679 Pengusaha Baru Untuk Jadi Negara Maju

RI Butuh 1.679 Pengusaha Baru Untuk Jadi Negara Maju


Indonesia dikejar waktu untuk segera keluar dari middle income trap, sebelum bonus demografi habis 13 tahun lagi. Salah satu cara untuk dapat melipatgandakan level PDB menjadi negara adalah dengan sebanyak mungkin mencetak pengusaha baru di semua sektor usaha.

Kalkulasi CNBC Indonesia Research, Indonesia membutuhkan sebanyak minimal 1.679 pengusaha baru di semua sektor usaha. Pemerintah perlu mendorong penerapan strategi bisnis Amati-Tiru-Modifikasi (ATM) untuk menciptakan pengusaha baru. Presiden terpilih 2024 bisa meniru kesuksesan strategi ATM pada restorasi Meiji di Jepang, dan “Open the Door Policy” di China yang sukses melipatgandakan PDB.

Pemerintah bisa menjadikan tren ekonomi masa depan, yakni fokus pada ekonomi digital yang kian membesar dan signifikan dampaknya bagi perekonomian. Kontribusi ekonomi digital ke PDB global sudah mencapai 5%–taksiran Bank Dunia, sementara ekonomi digital di Indonesia telah menyumbang 6,09% terhadap PDB-estimasi Google Temasek, Bain & Company.

Jakarta, CNBC Indonesia –Republik Indonesia membutuhkan kenaikan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) tiga kali lipat dalam 13 tahun mendatang untuk keluar dari jebakan negara berkembang sebelum bonus demografi habis pada 2036. Nilai PDB per orang perlu digenjot dari US$4,332 pada tahun lalu menjadi minimal US$12,500, atau secara total dari US$1,3 triliun menjadi US$3,9 triliun-dengan asumsi ceteris paribuspada populasi.

Untuk menggambarkan bagaimana tingkat kesulitan Indonesia untuk keluar dari jebakan ini, CNBC Indonesia Research menggunakan pemodelan sederhana. Menggunakan rasio kontribusi salah satu dari pelaku ekonomi, yakni swasta/perusahaan terhadap PDB nasional. Kesimpulannya, Indonesia perlu mencetak 1.679 pengusaha baru selevel Nadiem Makarim, kreator aplikasi transportasi online Gojek, agar bisa keluar dari jebakan negara menengah dan naik kelas menjadi negara maju pada 2036. Inilah salah satu alternatif cara melipatgandakan PDB, selain kebijakan hilirisasi tambang yang juga efektif menaikan nilai tambah ekonomi.

Simpulan itu diambil dari kontribusi nilai output Gojek, yang tercermin dari gross transaction value(GTV)-nya, dimana perusahaan ini seorang diri mampu berkontribusi sebesar 5,1% pada PDB ekonomi digital Indonesia yang total mencapai US$77 miliar pada 2022. Secara lebih luas, Gojek berkontribusi sebanyak 0,3% terhadap PDB Indonesia, atau menjadi entitas penyumbang terbesar dalam ekosistem ekonomi digital nasional yang mencapai 6,09% terhadap PDB Indonesia tahun lalu.

Hitungan ini hanya melibatkan pendapatan Gojek saja yang merepresentasikan sosok pengusaha seperti Nadiem. Kalau digabungkan dengan Tokopedia-keduanya merger pada Mei 2021-kontribusinya lebih jumbo. Mall online Tokopedia dirikan pengusaha muda visioner, William Tanuwijaya pada 2009. Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menaksir kontribusi ekosistem Gojek dan Tokopedia dan dampak tidak langsungnya pada 2021 mencapai Rp 249 triliun terhadap perekonomian nasional atau setara 1,6% dari PDB-melampaui sumbangsih seluruh pabrikan mobil saat itu yang hanya 1,35%.

Dalam diktat ilmu ekonomi ada tiga pelaku pembentuk PDB; rumah tangga/masyarakat (sekitar 50%), swasta/perusahaan (sekitar 40%) dan negara (sekitar 10%)–persentase angka merujuk rerata isi kue PDB Indonesia. Angka PDB ekonomi digital Indonesia 2022 itu berdasarkan taksiran Google Temasek, Bain & Company, sementara GTV adalah indikator standar untuk mengukur pendapatan bisnis digital, yang dihitung dari jumlah barang yang terjual dikalikan dengan harga yang terkumpul, cocok dengan konsep PDB.

Menciptakan pengusaha-pengusaha baru adalah kunci untuk Indonesia keluar dari jebakan negara berkembang. Sebagai gambaran akumulasi kekayaan 50 orang konglomerat terkaya di Indonesia itu sudah setara 13,6% dari nilai PDB pada 2022. Artinya apa? Perlu upaya keras dari pemerintah untuk menstimulasi penambahan jumlah pengusaha dalam daftar 50 orang kaya itu menjadi 750 orang atau 15 kali lipat, maka nilai PDB Indonesia bisa berlipat lebih dari tiga kali dan masuk ke jajaran elit negara maju. Ini memang susah, tapi itu satu-satunya jalan yang paling mungkin dilakukan, sebab hilirisasi produk tambang mungkin saja bisa membuat Indonesia menjadi maju, tapi serapan sektor itu pada lapangan kerja cuma satu persen.

Nadiem memang bukan lagi pengusaha, dia sekarang didapuk oleh Presiden Joko Widodo untuk menangani Kementerian Pendidikan. Tapi sebelumnya, Nadiem adalah contoh baik bagi anak bangsa yang bisa dijadikan role model anak-anak muda Indonesia lain untuk ikut berkontribusi pada perekonomian nasional, dimanapun sektor usahanya. Persatuan Bangsa-Bangsa sudah sejak lama menyatakan, anak muda adalah poros utama sumber daya manusia bagi pembangunan dan pelaku kunci agen perubahan sosial, pertumbuhan ekonomi dan inovasi-teknologi.

Nadiem adalah ‘Mark Zuckerberg’ nya Indonesia. Setelah lulus dari Harvard Business School tahun 2009, dan beberapa tahun berkarir di perusahaan multinasional dia pulang ke Indonesia dan merintis Gojek pada 2010. Seorang Nadiem, adalah contoh sederhana bagaimana seorang pengusaha mampu berkontribusi maksimal bagi perekonomian nasional. Sampai dengan Nadim tinggalkan pada 2019 tahun dilantik menjadi Mendiknas, valuasi Gojek telah menjadi Rp150 triliun, berlipat 60 ribu kali dari modal awal.

Mengapa sosok Nadiem cocok dijadikan role model, untuk pengusaha tidak hanya di ekonomi digital melainkan di semua 17 sektor pembentuk PDB Indonesia? Alasanya sederhana, karena dia mampu membuktikan sebuah prinsip fundamental yang telah banyak terbukti sukses menciptakan miliarder di seluruh dunia, dan juga di Indonesia; mampu melihat aroma cuan disetiap masalah kesehariannya.

Ide bisnis Gojek Nadiem pada dasarnya tidak orisinil, tampaknya mencontek model bisnis Uber, aplikasi serupa Gojek tapi mobil besutan Garrett Camp Travis Kalanick yang didirikan pada 2009 di AS. Setahun kemudian ia menciptakan Go-Jek, tapi tidak plek sama, bukan mobil tapi motor, karena itu yang dibutuhkan konsumen Indonesia. Insting Gojek akan besar itu muncul dari kebutuhan besar yang Nadiem rasakan sendiri saat masih bekerja sebagai konsultan di McKinsey di Jakarta yang macet. Dia mengaku, lebih memilih menggunakan ojek motor daripada mobil untuk mengejar jadwal meetingdengan klien. Nadiem dengan jeli melihat peluang dari semrawutnya sistem transportasi Indonesia yang tidak terintegrasi.

Orang-orang besar, konglomerat di Indonesia banyak yang bermula dari kisah bisnis seperti Nadiem menemukan Gojek. Ide bisnis besar yang lahir dari sebuah masalah, banyak saya temukan di antara 50 perusahaan dan bisnis terkemuka di Indonesia. Temuan ini saya kompilasi dalam buku “50 Great Business Ideas from Indonesia”yang diterbitkan pada 2010. Lompatan besar pebisnis dalam objek buku itu kebanyakan dimulai dari mengadopsi teori Amati Tiru Modifikasi ATM). Mayoritas orang tajir Indonesia bukan lahir dari sosok jenius yang menemukan suatu bisnis dari ide, konsep dan produk atau layanan jasa yang benar-benar baru dan orisinil.

Contoh, asal muasal AQUA Group-yang bernilai Rp6,5 triliun saat diakuisisi Danone Group, Prancis-didirikan oleh Tirto Utomo, seorang pegawai Pertamina dari sebuah kejadian deal bisnis Pertamina yang nyaris gagal, gara-gara istri dari delegasi asing rekanan bisnis Pertamina mengalami diare setelah disuguhi minuman air putih tidak higienis. Tirto keluar dari Pertamina pada 1973 dan mendirikan pabrik air minum dalam kemasan, yang pertama di Indonesia. Caranya, dia menyuruh adiknya Slamet Utomo magang dan belajar meniru cara kerja pabrik air mineral “Polaris” di Thailand.

Lalu, bagaimana Kapal Api bisa merajai bisnis kopi di Indonesia itu gara-gara pendirinya, Go Soe Loet dan Too Goan Cuan secara cermat mengamati kemasan Sabun Lux produksi Unilever, yang kecil dan ringkas. Keduanya lantas meniru mengemas kopi bubuk Kapal Api yang awalnya dijual kiloan menjadi kemasan praktis sachet. Bisnis mereka laku keras dan sampai kini menjadi raja kopi Indonesia.

Ada juga James T. Riady, generasi kedua Lippo Group membawa ide bisnis grosir Wal-Mart dan J.C. Penney saat sekolah di Amerika Serikat ke Tanah Air dengan mengakuisisi Matahari Department Store. Kini kekayaan James Rp 24,65 trillium. Sementara dalam interview dengan legenda hidup perfilman Indonesia Raam Jethmal Punjabi, pemilik Multivision Plus, mengaku salah satu lompatan bisnisnya adalah impor film India pada 1967. Kemudian setelah laku keras dan mampu menangkap dan menjerat selera penonton domestik, Raam membuat versi produksi dalam negeri. Momentum besar kedua Raam bisa melipatgandakan bisnisnya adalah saat TV swasta mengudara pada 1989.

Kesimpulan kajian dalam buku adalah pada dasarnya ilmu untuk menjadi pengusaha sukses itu sama, dimanapun sektor usahanya. Yaitu, mampu melihat cuan dari sebuah persoalan, di saat orang lain tak mampu mengendusnya.

Regenerasi Konglomerat; Pemerintah Perlu Menduplikasi Nadiem

Presiden Soeharto adalah mungkin satu-satunya presiden yang paling banyak berjasa melahirkan pengusaha. Ini adalah satu sisi yang tidak kasat mata, tetapi terasa dampaknya dalam pembangunan ekonomi Orde Baru. Mesin utama dari laju PDB rata-rata 6-7%, sesuatu yang belum tertandingi oleh penerusnya sekarang. Bahkan, Pak Harto sudah dekat dengan pengusaha sejak berdinas militer, dan tahu betul manfaat adanya pengusaha kaya raya sebagai backingtulang utama perekonomian.

Strategi Pak Harto ini mengikuti teori trickle down effectyang digagas oleh Albert Otto Hirschman pada 1954. Teori ini mengatakan sebuah negara yang ingin mensejahterakan rakyatnya, mengurangi kemiskinan perlu menggenjot pertumbuhan ekonomi, sebab pada akhirnya dengan kue ekonomi yang besar akan dengan sendirinya menetes ke bawah melalui penciptaan lapangan kerja. Teori ini lantas berkelindan dengan pemikiran arsitektur ekonomi Orde Baru, Widjojo Nitisastro yang fans berat pemikiran Keynes.

Widjojonomics ini kemudian dituangkan dalam konsep Trilogi Pembangunan, yang dijalankan dengan dua program utama; Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) dan Revolusi Hijau (modernisasi pertanian). Secara ideologis, Widjojonomics mengacu pemikiran gurunya, Soemitro Djojohadikoesoemo-ayah Ketum Gerindra Prabowo Subianto-liberalisasi ekonomi yang cenderung pada blok barat, demi meningkatkan investasi.

Jalan pintas untuk mencapai itu, maka perlu akumulasi modal pada sejumlah pengusaha yang diberi privilegeterhadap sumber-sumber ekonomi negara. Kebijakan ini diterapkan di banyak negara yang terbelakang, khususnya di Asia seperti Korea Selatan yang pemerintahannya sengaja memelihara chaebol, yaitu sebuah konglomerat industrial besar yang dikendalikan oleh seorang pemilik. Beberapa chaebolseperti Lee Byung-chull (Samsung), Chung Ju-yung (Hyundai) dan Koo In-Hwoi (LG) sampai saat ini masih menjadi mesin utama PDB di negara semenanjung korea ini

Pak Harto juga demikian, ‘memelihara’ banyak pengusaha. Dari semuanya ada empat pengusaha yang kemudian dijuluki ‘Gang of Four’ Sudono Salim (Liem Sioe Liong/pendiri Indofood, Indomobil, BCA), Sudwikatmono ( Indocement, Bogasari), Ibrahim Risjad (Impor film, jaringan bioskop, pabrik terigu, dan semen) dan Djuhar Sutanto (Lin Wenjing/ ikut membantu ketiganya). Keempatnya mendapatkan akses khusus ke Istana, dan diberikan privilegeuntuk program ekonomi pemerintah. Tapi setelah krisis moneter 1997, praktis banyak bisnis diantara mereka berguguran dan semenjak reformasi 1998 pemerintah tampak mengambil jarang dengan tokoh pengusaha karena alasan kolusi dan nepotisme.

Setelah reformasi, kelindan antara pengusaha dan istana berkurang, namun trennya bergeser pada legislatif, dimana banyak pengusaha merapat ke partai politik untuk mendapatkan privilege, proyek atau mengamankan bisnisnya. Belakangan bahkan pengusaha menyaru menjadi politikus itu sendiri, sebab di sisi lain ada kebutuhan besar dari partai politik untuk mendapatkan sumbangan dana.

Saat ini DPR dikuasai oleh pengusaha, sebab 5 sampai 6 orang dari 10 anggotanya adalah pebisnis. Sebanyak 26% merupakan pemilik perusahaan, dan 25% adalah direksi. Kemudian, 36% masih aktif dalam melakukan kegiatan berusaha. Sebanyak 15% dari mereka berbisnis di sektor migas dan 15% lainnya di sektor manufaktur dan lainnya. Persentase pebisnis di DPR terbanyak sejalan dengan porsi kursi, dimana Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mencapai 23%, diikuti Partai Gerindra sebesar 16% dan Partai Golkar sebesar 16%. Hitungan ini dirilis Pusat Penelitian Politik (P2P-LIPI, sekarang BRIN).

Menciptakan pengusaha-pengusaha baru melalui kolusi bukan zamannya lagi. Era globalisasi, liberalisasi pasar, perkembangan teknologi, khususnya digital membuka ruang besar bagi siapapun untuk menjadi pebisnis sukses. Perkembangan teknologi adalah rahim besar untuk lahirnya konglomerat baru. Elon Musk (Tesla) dan Mark Zuckerberg (Meta.Inc) Lawrence Edward Page dan Sergey Brin (Alphabet) di AS, Jack Ma (Alibaba) dan Zhang Yiming (ByteDance) di China, Nadiem Makarim (Gojek) dan William Tanuwijaya (Tokopedia) adalah contoh bagaimana era baru ekonomi digital mampu melahirkan konglomerat anyar dengan cara yang jauh berbeda dari Orba. Mereka lahir secara organik lewat tempaan alam, bukan dibesarkan secara -organik oleh kolusi.

Perlu gerakan nasional untuk melahirkan pengusaha-pengusaha baru, menaikkan kelas kewirausahaan kelas UMKM menjadi konglomerat. Pemerintah wajib menciptakan iklim investasi dan berusaha yang memberikan kesempatan yang sama kepada semua anak bangsa. Perlu campur tangan untuk misalnya menciptakan pusat-pusat baru wirausaha, misalnya asistensi pendanaan, jaringan pasar, dan paling utama adalah penyediaan inovasi terapan yang bisa langsung diterapkan oleh pengusaha. Pendekatan tidak harus melulu pada insentif fiskal yang membebani keuangan negara, tapi perlu diperluas. Banyak contoh di negara lain, bagaimana mereka menyemai pengusaha baru.

Ekonomi Digital Itu Masa Depan; Contohlah si Cerdik & Licik Zuckerberg

Bila Indonesia membutuhkan setidaknya 1.679 pengusaha sekelas Nadiem Makarim untuk menjadi negara maju, maka Amerika Serikat saat ini memiliki 31 pengusaha dengan kualitas output setara Mark Zuckerberg, untuk mempertahankan dominasinya sebagai mesin utama ekonomi dunia. Zuckerberg dan kolega pengusaha teknologi di AS merupakan tulang punggung kedua PDB disana dengan porsi sumbangan di atas 10%.

Kisah tumbuh dan berkembang Facebook memberi inspirasi bahwa menjadi pengusaha itu tidak harus jenius dan bermodal besar. Seperti Nadiem, Mark Zuckerberg juga bukanlah seorang penemu tulen. Dia jauh dari sosok jenius seperti Bill Gate atau Steve Jobs. Baik Gate maupun Jobs menemukan Windows dan Apple dari tidak ada, benar-benar orisinil. Demikian pula bila disandingkan si paling kontroversial Elon Musk.

Tetapi Zuckerberg jauh lebih cerdik dari ketiga seniornya itu. Zuckerberg adalah miliarder termuda dari figur 10 besar orang paling tajir sedunia, bersama tiga seniornya itu. Termasuk di dalamnya Sergey Brin dan Larry Page (Google), legenda hidup investasi Warren Buffett (Berkshire Hathaway), Jeff Bezos (Amazon), Bernard Arnault (LVMH), Larry Ellison (Oracle) Steve Ballmer (Microsoft). Umur Zuckerberg rata-rata separuh dari senior-seniornya ini. Tapi bagaimana dia bisa bersaing dengan mereka yang mayoritas inventor murni?

Sebelum ada Facebook 2004, sudah ada Friendster dua tahun sebelumnya dan Myspace 2003. Facebook itu hasil nyontek, dan lebih parahnya lagi ide jiplak ini bukan dari Zuckerberg, ia mencurinya dari orang lain juga. Ide orisinil Facebook awal itu datang dari tiga orang kakak tingkat Zuckerberg di Universitas Harvard; Divya Narendra, Cameron Winklevoss, dan Tyler Winklevoss. Ketiganya punya ide tapi tidak punya keterampilan developer program. Maka, mereka bertiga meminta Zuckerberg untuk mengerjakannya.

Proyek pesanan itu tidak pernah selesai. Zuckerberg malah membuat situs “Facemash” atau buku wajah pada tahun 2003. Ini sebenarnya situs direktori mahasiswa Harvard biasa, tak ada ubahnya dengan situs direktori kampus lainnya. Idenya keren, karena bisa membuat situs direktori yang membosankan menjadi jauh lebih menarik. Dia menyandingkan satu foto mahasiswa dengan mahasiswa lainnya dalam satu halaman, terus kasih tombol “Hot or Not”. Cuma modal inovasi itu saja, Facemash diserbu pengunjung. Hanya dalam enam jam pertama, situs itu dibanjiri 450 unique user (pengunjung), dan 22.000 views (tayangan). Dia juga memasang website ini ke server kampus top lainnya di AS dan berhasil membuat kehebohan. Situs buatan Zuckerberg jadi buah bibir dimana-mana.

Kehebohan itu bikin pihak rektorat Harvard gerah. Facemash ditutup paksa karena dianggap melanggar privasi. Tetapi dia tak mau menyerah begitu saja, dia cerdik. Dia ubah situsnya menjadi cuma direktori gambar, isinya cuma mengunggah gambar seni, disertai dengan kolom komentar di bawahnya. Inilah ide awal Instagram itu bermula.

“Semua orang berbicara banyak tentang Facemash universal di Harvard. … Saya pikir agak konyol bahwa Universitas membutuhkan beberapa tahun untuk mempelajarinya. Saya bisa melakukannya lebih baik daripada yang mereka bisa, dan saya bisa melakukannya dalam seminggu,” kata Zuckerberg dalam sebuah interview dengan koran kampus The Harvard Crimson, medio 2017.

Facebook yang sekarang bernilai US$728 miliar, atau lebih dari separuh nilai PDB Indonesia ini awalnya cuma dibuat dalam waktu dua minggu. Facemash memang kemudian mati oleh kebijakan privasi rektorat, tapi idenya tetap mengalir deras di kepala Zuckerberg. Gagal di kampus, pada Januari 2004 dia membuat coding situs web baru, yang diberi nama domain TheFacebook” dan dibuka untuk pengguna umum.

Modal awal Facebook cuma US$2000, kira-kira Rp30 juta bila dirupiahkan waktu itu. Modal itupun hasil patungan dengan teman sekampus Eduardo Saverin, plus tambahan US$18.000 untuk modal operasional. Pada tanggal 4 Februari 2004, Zuckerberg meluncurkan “TheFacebook”. Zuckerberg juga mengajak teman-teman lainnya, seperti Andrew McCollum, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes.

Film The Social Network (2010) mampu mengungkapkan dengan baik sosok berkepribadian seperti apa sebenarnya anak keturunan Yahudi ini. Zuckerberg tidak pernah membantah film biopik Facebook ini, tapi juga tidak membenarkan. Film ini dengan baik mampu menggambarkan bagaimana cara Zuckerberg menjadi penguasa tunggal Facebook. Langkah pertama Zuckerberg adalah dengan menyingkirkan Saverin, sebagai sekutu terdekat, karena sama-sama bertaruh modal awal. Koleganya itu adalahchief financial officer and business manager, sementara Zuckerberg adalah CEO.

Mengutip investigasi Business Insider, pada 15 Mei 2012, Zuckerberg menggunakan celah hukum perjanjian akta perusahaan Facebook yang disepakati pada Oktober 2005. Di bumbui dengan alasan personal bahwa Saverin selaku co-founder dianggap tidak bisa bekerjasama. Setelah saling balas gugatan di pengadilan, Zuckerberg berhasil menyingkirkan Saverin lewat perjanjian diluar pengadilan dengan kompensasi kecil, cuma US$5 miliar atau setara 4-5% dari saham baru pada perjanjian ulang akta perusahaan Facebook.

Langkah kedua, tinggal menendang kawan-kawannya yang lain Andrew McCollum, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes dengan kompensasi lebih kecil, seperti Moskovitz yang dibungkam dengan dua persenan saham. Strategi untuk menjalankan misi ambisius Zuckerberg menguasai Facebook ini kalau dalam teori bisnis merger and acquisitiondisebut sebagai trik hostile takeover adalah akuisisi atau pengambilalihan secara bermusuhan. Selebihnya, cara ekspansi bisnis Zuckerberg melalui akuisisi sebanyak 99 perusahaan rintisan, dengan terbesar WhatsApp pada 2014 senilai US$19 miliar.

Terlepas dari cara-cara licik Zuckerberg membangun, mengembangkan dan menguasai Facebook, tapi kisah hidupnya dapat memberikan inspirasi dan pelajaran penting bagi anak muda. Bahwa, untuk sukses tidak harus jenius atau bakat alami alias takdir dan modal jumbo. Kesuksesan itu benar-benar bisa diupayakan, bukan warisan.

Zuckerberg, adalah representasi dari pengusaha yang menerapkan teori dasar kewirausahaan; amati-tiru-modifikasi (ATM). Zuckerberg berulang kali menggunakan teori ini untuk membuat bisnis baru. Setelah Facebook dan Instagram pada 2010, kini teranyar adalah “Threads” aplikasi media sosial yang 100% menjiplak Twitter, milik Elon Musk.

Terlalu dini menganggap aplikasi ini bisa menyalip Twitter, tapi hanya dalam 24 jam setelah dirilis ada 30 juta akun pengguna baru, versus 360 juta pengguna eksisting Twitter. Artinya secara linier, Threads bisa mengungguli Twitter hanya dalam dua pekan saja. Tapi katakanlah, satu tahun sepertinya cukup bagi Zuckerberg akan melibas Musk, atau bersaing. Melihat fitur Threads dan bagaimana Zuckerberg mengintegrasikan dengan Instagram untuk menekan anominitas pengguna, peluangnya besar.

Pandemi Covid-19 Praktik telah memberikan banyak pelajaran bahwa lanskap perekonomian dunia mulai berubah, atau paling tidak memunculkan ekonomi baru. Bank Dunia menyatakan teknologi digital berada di garis depan pembangunan dan memberikan peluang unik bagi negara-negara untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan menghubungkan warga negara dengan layanan dan pekerjaan. Bank Dunia memberikan rekomendasi untuk negara yang ingin ikut menikmati tren pesat ekonomi digital.

Pertama, menutup kesenjangan digital global, sebab meskipun teknologi baru menyebar dengan cepat ke seluruh dunia, miliaran orang masih belum pernah menggunakan internet. Kedua, mempersiapkan pekerjaan masa depan, karena inovasi secara radikal telah mengubah pasar tenaga kerja. Ketiga, mengembangkan sistem digital yang aman dan andal, diantaranya penguatan keamanan siber dan perlindungan data pribadi.

Ceruk kembang pasar digital masih sangat lebar, sebab menurut data Bank Dunia, hampir 3 miliar orang tetap offline, sebagian besar tanpa akses internet dan terkonsentrasi di negara berkembang. Dan kesenjangan penggunaan tetap menjadi tantangan. Hampir setengah (43%) populasi dunia tidak menggunakan internet seluler tahun lalu, meskipun tinggal di wilayah dengan jangkauan broadband seluler. Ini adalah peluang bisnis besar, sebab teknologi digital dapat mengubah pasar dan peluang ekonomi. Pada tahun 2021, teknologi dan layanan seluler menghasilkan $4,5 triliun nilai tambah ekonomi, atau 5% dari PDB global.

Strategi ATM Kaisar Mutsuhito dan Kamerad Xiaoping

Teori ATM ini sudah terbukti tidak hanya berhasil membuat sosok sukses seperti Zuckerberg dengan Facebook-nya, tetapi juga dalam skala besar, negara. Seperti dilakukan Jepang lewat inisiatif Kaisar Mutsuhito atau lebih dikenal sebagai Restorasi Meiji pada 1868. Caranya, kaisar mendatangkan 3.000 orang ahli di berbagai bidang dari negara barat untuk mengajar pemuda-pemudi di Jepang. Kaisar juga mengirim ribuan pemuda untuk belajar ke negeri maju, dan membuka kran investasi asing selebar-lebarnya. Pokoknya, apapun yang ada di Jepang pada waktu itu meniru persis seperti apa yang diterapkan di barat, kecuali sistem politiknya.

Teori ATM memiliki kelemahan mendasar, yaitu terjebak pada zona nyaman, karena keluaran produk hasil strategi ini biasanya jarang yang bisa mengungguli sumber idenya. Ini misalnya dilakukan China yang kemudian sukses besar menjadi negara dengan perekonomian jumbo lewat “Kebijakan Buka Pintu” yang diinisiasi Deng Xiaoping pada Desember 1978. Hasilnya dari tahun itu sampai 2007, pertumbuhan PDB nya naik rata-rata 10% per tahun, dan pendapatan perkapita rakyatnya naik 10 kali lipat.

Sampai sekarang China belum bisa mengungguli Amerika Serikat, berbeda dengan Jepang yang sukses menjadi pesaing setara. Resepnya pernah diungkapkan R. Taggart dalam buku The Weight of the Yen, bahwa salah satu kunci sukses Jepang adalah dengan amat cermat dan detail mengambil langkah-langkah bisnis yang harus ditempuh dalam 20-50 tahun ke depan.

Ciri khas Jepang untuk keluar dari “kepompong” teori ATM adalah dengan membanjiri produk di pasar dengan kualitas tinggi. Sampai saat ini, Jepang adalah pemegang mindset global sebagai produsen barang bermutu tinggi. Langkah ini berkebalikan dengan China yang membanjiri pasar dengan produk kualitas rendah, tapi berharga murah.

Pada titik tertentu China memang berhasil melipatgandakan kekayaan PDB, tetapi tidak berkelanjutan. Model pembangunan ini mentok dan menciptakan masalah baru seperti isu kesejahteraan buruh dan kerusakan lingkungan. Belakangan China menyadari ini dan secara resmi membuat perencaan baru pembangunan ekonomi berbasis kualitas tinggi, berfokus pada teknologi, standar, merek dan jasa. China bahkan sudah pasang target “Chinese brands” mengglobal pada 2025.

Di balik kemajuan pembangunan pesat dan berkualitas seperti AS, Jepang dan mungkin sebentar lagi China selalu saja ada orang-orang seperti Zuckerberg. Mereka bukan jenius, penemu, tetapi murni sosok yang bermental pengusaha. Di Jepang didominasi oleh produsen mobil, seperti Kiichiro Toyoda (Toyota), Takeo Fujisawa (Honda) dan Yoshisuke Aikawa (Nissan) yang merintis produksi mobil di era 1900-an, menyontek Eropa dan AS.

Di China tak lain adalah Jack Ma yang merintis kekayaan lewat mall online, Alibaba pada April 1999. Ma persis menjiplak bisnis e-commerce Amazon milik Jeff Bezos yang dibangun dari ide baru Juli 1994. Tapi dengan rentang beda usia lima tahun, nilai Alibaba bisnisnya sudah mencapai US$214 miliar, seperenam dari Amazon. Sosok yang lebih mirip Zuckerberg di China adalah Zhang Yiming, penemu Tik Tok. Dia berhasil menemukan celah perilaku Generasi Z yang mudah bosan, dengan merilis aplikasi linimasa berisi potongan-potongan video pendek pada 2016.

Ide Yiming luar biasa berhasil, valuasi ByteDance-induk Tik Tok-mulanya cuma $533 juta, kini berlipat 135 kali menjadi US$75 miliar. Bandingkan dengan Youtube, yang saat dibeli Google pada 2016 dari penemunya Steve Chen, Chad Hurley, dan Jawed Karim senilai US$1,65 miliar, kini senilai US$138 miliar atau berlipat 83 kali. Sekarang Youtube balik meniru ide kreatif Tik Tok dengan merilis YouTube Shorts.

Dunia digital sangat menggoda. Menarik bukan hanya bagi manusia, korporasi tetapi juga bangsa-bangsa. Sebab perekonomian digital menawarkan begitu banyak kemudahan bagi orang-orang untuk hidup lebih mudah, kekayaan dalam waktu singkat, dan menghasilkan keuntungan besar bagi pebisnis. Ekonomi digital adalah masa depan yang tak terbendung. Ia akan membangun lanskap baru peradaban umat manusia.

Ekonomi digital bahkan tumbuh lebih cepat di luar pemahaman kebanyakan orang. Salah satu contohnya adalah aplikasi pesan antar makanan Gofood, Grabfood, Shopee Food tanpa disadari telah menciptakan silent inflation-inflasi senyap. Istilah ini mengacu pada perbedaan besar antara harga di tingkat konsumen atau aplikasi dan di restoran. Rata-rata harganya bisa 25% lebih mahal, di mana konsumen sudah tahu tapi tetap mau membeli? Mengapa? Dan apa dampaknya bagi inflasi nasional? Kesejahteraan mitra? Nantikan analisa selanjutnya dari CNBC Indonesia Research tentang hal ini.

Sumber: CNBC Indonesia

RELATED ARTICLES

TRANSLATE

Most Popular