Thursday, April 11, 2024
HomeJambiMengenal Bubur Ayak, Makanan Tradisional Jambi yang Baru Masuk Rekor MURI

Mengenal Bubur Ayak, Makanan Tradisional Jambi yang Baru Masuk Rekor MURI

Bubur ayak Jambi tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan jumlah peserta pembuatan bubur ayak terbanyak yakni lebih 300 orang.

Ketua TP PKK Pemprov Jambi, Hesnidar Haris mengatakan tujuan pemecahan rekor MURI Bubur ayak Jambi itu salah satunya bertujuan untuk mengenalkan makanan tradisional pada generasi muda.

“Tujuan kami agar generansi penerus tidak lupa dengan budaya tradisi daerah kita. Karena anak muda kita sudah jarang memesan makanan tradisional, mereka cenderung memesan makan luar. Jadi tanpa kita viralkan, mereka lupa dan tidak tau dengan masakan khas kita,” kata Hesti Haris sapaan akrab Hesnidar.

Hesti mengatakan bubur ayak merupakan makanan tambahan sebagai selingan yang banyak disukai masyarakat Merangin.

“Bubur ayak tradisi yang luar biasa, tradisi di kabupaten Merangin dan juga Sarolangun, mungkin ada juga didaerah lain, mungkin namanya lain,” ujarnya.

Bubur ayak makanan tradisional orang batin dan penghulu

Dikutip dari Uun halimah.blogapot.com Bubur ayak adalah jenis makanan tambahan sebagai selingan yang sangat disukai oleh masyarakat Batin Merangin. Bubur ayak ini disebut juga dengan bubur sumsum. Dinamakan bubur ayak, karena bahan utamanya adalah tepung beras yang telah diayak (ditapis) menjadi halus yang kemudian diuli seperti cendol.

Menurut kebiasaan masyarakat Merangin, bubur ini tidak diberi pewarna begitu juga santannya sehingga tampilan warna bubur ini adalah putih bersih. Adapun alasan tidak perlu diberikan pewarna, adalah karena menurut kognitif orang batin Merangin warna putih adalah gambaran dari kebersihan dan kesucian hati. Bubur ini disantap untuk sarapan atau dapat juga dijadikan pengganti makan siang karena bahan dasarnya yang dapat mengenyangkan. Bubur ini tidak dijadikan makanan sehari-hari, tetapi hanya sekali-kali saja mereka menghidangkannya yaitu pada saat pesta besar, panen raya dan juga pada saat adanya rapat-rapat panitia sesuatu perkumpulan.

Bubur ayak ini disuguhkan pada saat “hari baik” yaitu hari-hari besar agama Islam seperti Maulud Nabi dan Idulfitri. Selain itu, dalam setiap perkumpulan-perkumpulan sosial disuguhkan juga bubur ini. Demikian juga pada saat adanya suatu rapat-rapat di sekitar desa, dan juga pada waktu arisan ibu-ibu sebagai makanan selingan utama disamping kue-kue ringan dan minuman teh atau air putih. Sebagai makanan tambahan, bubur ini tidak dijual di warung-warung atau toko-toko kue. Penduduk yang ingin menyantapnya harus membuat membuat sendiri bubur ini.

Cara pembuatan bubur ayak adalah tepung beras di uli (tepung diadon dengan air secukupnya). Lalu dibuat menyerupai cendol bulat dimasukkan ke dalam panci, lalu dijerangkan setelah ditaruh sedikit air (panas atau dingin) dan diaduk-aduk sampai merata. Setelah mendidih, ditaruhlah santan yang telah dicampur dengan gula, lalu diaduk hingga merata.

Bubur ayak ini disuguhkan pada saat “hari baik” yaitu hari-hari besar agama Islam seperti Maulud Nabi dan Idulfitri. Selain itu, upacara atau acara penting seperti pesta-pesta besar, panen raya, dalam setiap perkumpulan-perkumpulan sosial disuguhkan juga bubur ini. Demikian juga pada saat adanya suatu rapat-rapat di sekitar desa, dan juga pada waktu arisan ibu-ibu sebagai makanan selingan utama disamping kue-kue ringan dan minuman teh atau air putih.

Bubur ayak merupakan salah satu jenis makanan yang digunakan dalam upacara keagamaan. Seperti diketahui masyarakat Batin sangat identik dengan Islam karena hampir segala sesuatu, ucapan maupun perbuatan harus berdasarkan syariat ajaran Islam. Hal ini tergambar dari ungkapan, “adat berdasarkan syara, syara berdasarkan Kitabullah” Di daerah Merangin, setiap upacara agama Islam selalu diperingati seperti Maulid Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihis Sallam, Idul Qurban, Idul Fitri, Tahun Baru Islam (tanggal 1 Muharram), Isra Mi’raj, dan lain-lain. Adapun tujuan upacara-upacara tersebut adalah untuk menanamkan ajaran Islam secara lebih mendalam disamping untuk lebih mencintai agama Islam.

Alat yang dipergunakan untuk memasak bubur ayak adalah panci besar untuk merebus. Ayak atau saringan untuk mengayak tepung yang terbuat dari nilon halus. Kukuran kelapo atau parutan kelapa untuk memarut kelapa. Kemudian tapisan kelapo atau alat penyaring santan. Mangkok-mangkok atau piring untuk tempat menghidangkannya, serta sendok untuk menyantapnya.

Dalam kehidupan masyarakat di daerah Merangin, masakan bubur ayak mempunyai fungsi untuk menjalin kehidupan sosial. Dengan kata lain, bahwa bubur ayak mempunyai nilai sosial, karena dalam makan bersama telah memperlihatkan selera yang sama sehingga hal itu dapat mempererat tali persaudaraan.

Selain mengandung nilai sosial, bubur ayak ini juga mengandung nilai budaya, karena makanan tradisional ini menjadi salah satu sarana upacara keagamaan yang telah dilakukan turun-temurun.

Sumber: Pariwara Jambi

RELATED ARTICLES

TRANSLATE

- Advertisment -

Most Popular