Wednesday, May 22, 2024
HomeIndonesiaJembatan Ampera Dari Masa Ke Masa, Cagar Budaya Sumatera Selatan

Jembatan Ampera Dari Masa Ke Masa, Cagar Budaya Sumatera Selatan


Jembatan Ampera adalah jembatan yang menghubungan hulu dan hulir yang merupakan cagar budaya Sumatera Selatan.

Nama Ampera sendiri diambil dari kata Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) yang pada saat itu menjadi slogan Bangsa Indonesia pada tahun 1960-an.

Jembatan Ampera ini memiliki panjang 1.117 meter, lebar 22 meter dengan ketinggian mencapai 65 meter dan sempat menjadi jembatan terpanjang dan tercanggih di Asia Tenggara pada masanya.

Awalnya ide untuk membangun jembatan yang menghubungkan dua daratan di kota Pempek ini sudah ada sejak zaman Gemeente (kotamadya) tahun 1906.

Yang mana saat itu Wali kota Palembang diduduki oleh Lekuk Devil.

Namun, belum terwujud karena berbagai faktor dan sempat terlupakan.

Dan akhirnya gagasan tersebut kembali muncul pada saat kemerdekaan, dan anggota DPRD kota Palembangmengusulkan pembangunan jembatan disaat sidang pleno yang berlangsung pada 29 Oktober 1956.

Anggaran untuk membangun jembatan yang dimiliki kotaPalembang hanya ada sekita 30 ribu pada saat itu.

Sehingga pada tahun 1957 dibentuklah panitia pembangunan, yang terdiri dari beberapa pengusaha perang Komando Daerah Militer 4 Sriwijaya yaitu Harun Sohar, Gubernur Sumsel H. Bastari, walikota Palembang M. Ali Amin serta wakil walikota yaitu Indrajaya untuk meminta bantuan kepada Presiden Soekarno.

Tidak berapa lama, usulan tersebut diterima dan proyek pengerjaan jembatan dimulai pada 10 April 1962.

Dengan biaya pembangunan yang diambil dari dana rampasan perang Jepang.

Setelah kalah pada perang dunia ke-2 sekutu mengharuskan Jepang menandatangani perjanjian San Fransisco.

Yang berisi Jepang bertanggung jawab moral dan material kepada negara jajahan termasuk Indonesia. Dengan nilai 223.8 juta US dollar.

Dana tersebut tidak hanya digunakan untuk pembangunan jembatan Ampera saja, tetapi tugu Monas juga menggunakan dana rampasan tersebut.

Sebagai bentuk apresiasi masyarakat Palembang kepada Presiden Soekarno, jembatan Ampera awalnya dinamai Jembatan Bung Karno.

Namun,  Presiden Soekarno tidak berkenan.

Serta pada tahun 1966 pergolakan polotik anti-Soekarno sangat kuat.

Sehingga, jembatan tersebut diberi nama Jembatan Ampera yang diambil dari slogan Bangsa Indonesia. 

Bagian tengah jembatan dapat diangkat menggunakan peralatan mekanis dan terdapat dua bandul pemberat yang memiliki berat kisaran 500 ton pada kedua menaranya, kecepatan dalam menarik bagian tengah jembatan sekitar sepuluh meter/menit. Sehinggah waktu yang diperlukan untuk mengangkatnya yaitu 30 menit.

Jembatan Ampera pernah mengalami tiga kali perubahan warna. Pada awal didirikannya Ampera memiliki berwarna abu-abu dan pada tahun 1992 berubah menjadi warna kuning.

Sehingga pada tahun 2002 warna merah menyala nilah menjadi simbol khas jembatan kebanggaan Wong Kito Galo hingga saat ini.

Sumber: Detik Sumsel

RELATED ARTICLES

TRANSLATE

- Advertisment -

Most Popular